BAB 6 PELAPISAN SOSIAL DAN
KESAMAAN DERAJAT
1. PELAPISAN SOSIAL ( Stratifikasi Sosial )
Stratifikasi
Sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa latin “stratum”
(tunggal) atau “strata” (jamak) yang berarti berlapis-lapis. Dalam Sosiologi,
stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat
ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. stratifikasi sosial adalah sebuah
konsep yang menunjukkan adanya pembedaan dan/atau pengelompokan suatu kelompok
sosial (komunitas) secara bertingkat. Misalnya: dalam komunitas tersebut ada
strata tinggi, strata sedang dan strata rendah. Pembedaan dan/atau
pengelompokan ini didasarkan pada adanya suatu simbol -simbol tertentu yang
dianggap berharga atau bernilai — baik berharga atau bernilai secara sosial,
ekonomi, politik, hukum, budaya maupun dimensi lainnya — dalam suatu kelompok
sosial (komunitas). Simbol -simbol tersebut misalnya, kekayaan, pendidikan,
jabatan, kesalehan dalam beragama, dan pekerjaan. Dengan kata lain, selama
dalam suatu kelompok sosial (komunitas) ada sesuatu yang dianggap berharga atau
bernilai, dan dalam suatu kelompok sosial (komunitas) pasti ada sesuatu yang
dianggap berharga atau bernilai, maka selama itu pula akan ada stratifikasi
sosial dalam kelompok sosial (komunitas) tersebut. Secara sosiologis, jika
dilacak ke belakang konsep stratifikasi sosial memang kalah populer dengan
istilah kelas sosial, dimana istilah kelas sosial pada awalnya menurut Ralf
Dahrendorf (1986), diperkenalkan pertama kali oleh penguasa Romawi Kuno. P ada
waktu itu, istilah kelas sosial digunakan dalam konteks penggolongan masyarakat
terhadap para pembayar pajak. Ketika itu ada dua masyarakat, yaitu masyarakat
golongan kaya dan miskin.
Stratifikasi
Sosial dan Status Sosial adalah dua hal yang berbeda, yang membedakannya adalah
status sosial atau kedudukan sosial merupakan unsur yang membentuk terciptanya
stratifikasi sosial, sedangkan stratifikasi sosial adalah pelapisan sosial yang
disusun dari status – status sosial.
Ada
banyak dimensi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan stratifikasi sosial
yang ada dalam suatu kelompok sosial atau komunitas (Svalastoga, 1989),
misalnya: dimensi pemilikan kekayaan (diteorikan Koentjaraningrat), sehingga
ada strata wong sugih dan wong cilik. Awalnya, dimensi ini digunakan untuk
melakukan identifikasi pada masyarakat Jawa, maka yang disebut pemilikan
kekayaan akan ter -fokus pada simbol – simbol ekonomi yang lazim dihargai
masyarakat Jawa. Misalnya, pemilikan tanah (rumah, pekarangan atau sawah).
Dimensi distribusi sumber
daya diteorikan oleh Gerhard Lensky, di mana ada strata tuan tanah, strata
petani bebas, strata pedagang, strata pegawai, strata p etani, strata
pengrajin, strata penganggur-an, dan strata pengemis. Dimensi ini pada awalnya
diberlakukan pada masyarakat pra-industri di mana sistem stratifikasi sosialnya
belum sekompleks masyarakat industri. Ada tujuh dimensi stratifikasi sosial
(diteor ikan Bernard Baber), yaitu: occupational prestige, authority and power
ranking, income or wealth, educational and knowledge, religious and ritual
purity, kinship, ethnis group, and local community. Ketujuh dimensi ini, baik
secara terpisah maupun bersama-sama, akan bisa membantu dalam mendeskripsikan
bagaimana susunan stratifikasi sosial suatu kelompok sosial (komunitas) dan
faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi sosial tersebut.
2. Kesamaan Derajat
Kesamaan derajat itu merupakan sesuatu yang bisa dikatakan atau
sesuatu yang selalu berhubungan dengan status. Kesamaan derajat terkadang dapat
membuat seseorang merasa menjadi lebih berwibawa, dan biasanya orang yang
mempunyai sifat seperti itu rasanya dia ingin selalu disegankan di sekitar atau
di lingkungan tempat tinggalnya. Sifat yang seperti ini sangat tidak baik.
Dalam hidup bertetangga kita jangan sampai mempunya sifat yang seperti itu,
karna itu akan membuat hubungan antar tetengga menjadi tidak harmonis dan itu
rasanya sangat tidak enak dan nyaman. Dalam hidup bertetangga kita harus selalu
tanamkan prinsip bahwa apa yang kita inginkan harus sesuai dengan apa yang kita
rasakan.
Banyak sekali contoh kejadian yang menggambarkan tentang hubungan
antara pelapisan sosial dengan kesamaan derajat. Salah satu contoh dalam
lingkungan kita, kita dapat temukan hal ini di lingkungan kita sendiri, bagi
orang yang memiliki lapisan social tertinggi di lingkungannya , maka orang itu
juga akan mendapatkan sesuatu yang istimewa di masyarakatnya, seperti dihormati
, dihargai , serta memiliki wibawa yang sangat tinggi, karena
mereka memiliki tempat atau derajat yang sangat dihormati ,tetapi semua itu
kembali terhadap kepada individu. Masih banyak contoh lainya, pelapisan social
dam kesamaan derajat memiliki cangkupan yang sangat luas , kita akan temukan
dalam mendapatkan pekerjaan , dalam memilih pasangan pun terkadang dilihat dari
hal ini. Oleh karena itu , kita sebagai manusia harus bersikap adil terhadap
sesama manusia ,kita satu jenis ciptaan ALLAH yang memiliki jenis pria dan
wanita, marilah berbagi terhadap sesama, berlaku adil untuk mencapai semuanya.
3. Elite dan Massa
Dalam masyarakat
tertentu ada sebagian penduduk ikut terlibat dalam kepemimpinan, sebaliknya
dalam masyarakat tertentu penduduk tidak diikut sertakan. Dalam pengertian umum
elite menunjukkan sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan
tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi elite adalah sekelompok orang terkemuka di
bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.
Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan : “ posisi di dalam masyarakat di puncak struktur struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan, aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas.” Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak elitnya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitive.
Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan : “ posisi di dalam masyarakat di puncak struktur struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan, aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas.” Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak elitnya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitive.
Di dalam suatu
pelapisan masyarakat tentu ada sekelompok kecil yang mempunyai posisi kunci
atau mereka yang memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil berbagai
kebijaksanaan. Mereka itu mungkin para pejabat tugas, ulama, guru, petani kaya,
pedagang kaya, pensiunan dan lainnya lagi. Para pemuka pendapat (opinion
leader) inilah pada umumnya memegang strategi kunci dan memiliki status
tersendiri yang akhirnya merupakan elite masyarakatnya.
Ada dua
kecenderungan untuk menetukan elite didalam masyarakat yaitu : pertama menitik
beratakan pada fungsi sosial dan yang kedua, pertimbangan-pertimbangan yang
bersifat moral. Kedua kecenderungan ini melahirkan dua macam elite yaitu elite
internal dan elite eksternal, elite internal menyangkut integrasi moral serta
solidaritas sosial yang berhubungan dengan perasaan tertentu pada saat
tertentu, sopan santun dan keadaan jiwa. Sedangkan elite eksternal adalah
meliputi pencapaian tujuan dan adaptasi berhubungan dengan problem-problem yang
memperlihatkan sifat yang keras masyarakat lain atau masa depan yang tak tentu.
Isilah massa
dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang
elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai crowd, tetapi yang
secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain. Massa diwakili
oleh orang-orang yang berperan serta dalam perilaku misal seperti mereka yang
terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar
di berbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan
sebagai diberitakan dalam pers atau mereka yang berperan serta dalam suatu
migrasi dalam arti luas.
* Ciri-ciri massa adalah :
1. Keanggotaannya berasal dari semua lapisan
masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas
yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakmuran atau kebudayaan yang
berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai masa misalnya orang-orang
yang sedang mengikuti peradilan tentang pembunuhan misalnya malalui pers.
2. Massa merupakan kelompok yang anonym, atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonym.
3. Sedikit interaksi atau bertukar pengalaman antar anggota - anggotanya.
2. Massa merupakan kelompok yang anonym, atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonym.
3. Sedikit interaksi atau bertukar pengalaman antar anggota - anggotanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar